Pernahkah Anda membuka album keluarga dan menemukan foto diri sendiri saat berusia satu tahun? Anda tahu anak dalam foto itu adalah Anda. Mungkin orang tua masih mengingat suasananya, bahkan cerita lucu di baliknya. Namun ketika mencoba mengingat peristiwa itu dari sudut pandang Anda sendiri, yang muncul justru ruang kosong.
Anehnya, pada masa yang sulit kita ingat itulah kita belajar sangat banyak: mengenali wajah, memahami suara, merangkak, berjalan, dan mulai berbicara. Mengapa kemampuan belajar begitu pesat, sementara ingatan tentang pengalaman pribadi pada masa itu nyaris tidak tersedia ketika kita dewasa?
### Dua macam “mengingat”
Kuncinya adalah membedakan belajar dari mengingat kembali satu kejadian tertentu. Bayi bisa mengenali suara pengasuh, terbiasa dengan pola bahasa, dan mempelajari hubungan antara tindakan dan akibat. Tetapi ingatan autobiografis—misalnya “suatu sore aku bermain dengan ayah di taman”—memerlukan kemampuan menyimpan dan kelak mengambil kembali sebuah pengalaman sebagai bagian dari kisah hidup diri sendiri.
Ketidakmampuan orang dewasa mengingat banyak peristiwa dari tahun-tahun pertama kehidupan disebut *amnesia infantil* (*infantile amnesia*). Berbagai kajian menemukan bahwa ingatan autobiografis orang dewasa sangat jarang berasal dari usia sebelum sekitar tiga sampai empat tahun, meskipun usia ingatan paling awal berbeda antarmanusia. Sebagian “ingatan” paling dini juga bisa tercampur dengan foto, video, atau cerita keluarga yang didengar berulang kali.
### Apakah otak bayi belum mampu membuat memori?
Penjelasan lama sering menekankan bahwa hipokampus—bagian otak yang penting dalam pembentukan ingatan tentang peristiwa—masih berkembang. Dari sini muncul dugaan bahwa bayi belum dapat merekam pengalaman spesifik sebagaimana anak yang lebih besar.
Namun penelitian yang diterbitkan dalam jurnal *Science* pada Maret 2025 memberikan petunjuk baru. Tristan S. Yates dan rekan-rekannya mengamati 26 bayi berusia sekitar empat bulan hingga dua tahun dengan pencitraan otak fMRI ketika mereka melihat gambar wajah, benda, dan pemandangan. Setelah jeda singkat, para bayi kembali diperlihatkan gambar lama dan gambar baru.
Peneliti membandingkan aktivitas hipokampus saat gambar pertama kali dilihat dengan kecenderungan bayi memandang gambar yang sudah pernah muncul. Hasilnya: aktivitas hipokampus yang lebih kuat berkaitan dengan tanda pengenalan gambar pada pengujian berikutnya. Hubungan ini paling jelas pada bayi berusia lebih dari sekitar 12 bulan.
Temuan itu penting karena menunjukkan bahwa mekanisme untuk *mengodekan* pengalaman individual sudah mulai bekerja pada masa bayi. Dengan kata lain, “tidak bisa mengingat saat dewasa” tidak otomatis berarti “tidak pernah membentuk memori saat bayi”.
### Jika pernah tersimpan, ke mana perginya?
Di sinilah ilmu pengetahuan belum mempunyai jawaban tunggal. Setidaknya ada beberapa kemungkinan.
Pertama, sebagian memori terbentuk tetapi tidak bertahan cukup lama. Kedua, jejak memori mungkin bertahan, namun sulit diakses karena sistem pencarian, konteks, dan cara otak mengorganisasi pengalaman berubah seiring perkembangan. Ketiga, pembentukan ingatan autobiografis juga melibatkan perkembangan bahasa, pemahaman tentang diri sendiri, dan kemampuan menyusun pengalaman menjadi cerita yang koheren.
Bayangkan sebuah perpustakaan yang katalog, rak, dan cara pengelompokannya terus diubah. Buku yang dahulu pernah diletakkan di sana belum tentu mudah ditemukan dengan sistem pencarian yang dipakai bertahun-tahun kemudian. Ini hanya analogi, bukan bukti bahwa seluruh memori bayi tetap tersimpan selamanya.
Penelitian 2025 tadi menguji pengenalan setelah jeda sekitar satu menit, bukan kemampuan orang dewasa mengambil kembali pengalaman dari puluhan tahun sebelumnya. Jadi hasilnya belum membuktikan bahwa memori masa bayi masih utuh di otak orang dewasa. Hipotesis “memori tersimpan tetapi sulit diakses” menarik, tetapi masih harus diuji.
### Bahasa, keluarga, dan kisah tentang diri
Ketika anak mulai mampu berkata “aku”, menyebut tempat, serta menjelaskan urutan kejadian, pengalaman dapat dihubungkan menjadi cerita pribadi. Percakapan bersama orang tua—misalnya membahas apa yang terjadi di taman, siapa yang hadir, dan bagaimana perasaan anak—juga dapat membantu anak berlatih mengorganisasi pengalaman. Riset perkembangan memori autobiografis menempatkan bahasa, narasi keluarga, dan konsep diri sebagai bagian penting dari proses ini.
Tetapi kita perlu hati-hati: cerita keluarga tidak sama dengan ingatan langsung. Jika seseorang merasa “ingat” pesta ulang tahun pertama setelah puluhan kali melihat videonya, bisa jadi yang diingat adalah video dan kisahnya, bukan pengalaman asli pada hari itu. Ingatan manusia bersifat rekonstruktif, bukan rekaman kamera yang diputar ulang secara sempurna.
### Lupa bukan berarti masa bayi tidak penting
Ada kesimpulan yang sering keliru: jika pengalaman bayi tidak bisa diceritakan ketika dewasa, berarti pengalaman itu tidak berpengaruh. Padahal belajar dan perkembangan tidak selalu memerlukan ingatan autobiografis yang dapat diucapkan. Penguasaan bahasa, kebiasaan, rasa familier, serta keterampilan awal dapat berkembang tanpa seseorang kelak mengingat tanggal dan tempat setiap pengalaman yang membentuknya.
Karena itu, perhatian, interaksi yang responsif, permainan, dan lingkungan yang aman tetap penting bagi perkembangan anak. Pentingnya masa bayi tidak bergantung pada apakah kelak ia dapat menceritakan kembali setiap peristiwa.
### Apa yang sudah kita ketahui—dan yang belum
**Bukti:** bayi mampu belajar dan menunjukkan tanda pengenalan pengalaman tertentu; studi fMRI tahun 2025 menemukan keterkaitan aktivitas hipokampus dengan pengenalan gambar setelah jeda singkat.
**Penafsiran yang masuk akal:** amnesia infantil kemungkinan tidak semata-mata disebabkan ketidakmampuan bayi membentuk memori; perkembangan proses penyimpanan, pemeliharaan, dan pengambilan kembali memori ikut berperan.
**Belum diketahui:** apakah pengalaman tertentu dari masa bayi benar-benar bertahan sampai dewasa dalam bentuk yang dapat diakses kembali, dan seberapa besar peran masing-masing mekanisme pada setiap individu.
Pada akhirnya, ingatan bukan satu-satunya bukti bahwa sesuatu pernah membentuk diri kita. Kita mungkin tidak mengingat hari pertama belajar berdiri, tetapi kemampuan berdiri itu tetap menjadi bagian dari perjalanan hidup.
### Referensi
1. Yates, T. S., dkk. (2025). “Hippocampal encoding of memories in human infants.” *Science*, 387(6740), 1316–1320. DOI: https://doi.org/10.1126/science.adt7570
2. Yale University (20 Maret 2025). “Why don’t we remember being a baby? New study provides clues.” https://news.yale.edu/2025/03/20/why-dont-we-remember-being-baby-new-study-provides-clues
3. Fivush, R., Habermas, T., Waters, T. E. A., & Zaman, W. (2011). “The making of autobiographical memory: Intersections of culture, narratives and identity.” *International Journal of Psychology*. https://doi.org/10.1080/00207594.2011.596541
4. Howe, M. L. (2003). “Memories from the Cradle.” *Current Directions in Psychological Science*, 12(2). https://doi.org/10.1111/1467-8721.01227

