Lite

Mengapa Uang Kertas Bisa Bernilai?

mengapa-uang-kertas-bisa-bernilai

Bayangkan dua lembar kertas di atas meja. Yang pertama adalah kertas biasa. Yang kedua adalah uang Rp100.000. Keduanya bisa dipegang, dilipat, bahkan rusak. Namun, hanya salah satunya lazim diterima ketika kita membeli beras, buku, atau membayar ongkos perjalanan.

Apa yang membedakannya? Jawabannya bukan harga kertas, tinta, atau biaya pencetakannya. Jawabannya terletak pada sistem kepercayaan yang dibangun bersama.

1. Uang adalah janji yang dapat berpindah tangan

Seorang pedagang menerima uang karena ia percaya dapat menggunakannya lagi. Pelanggannya juga menerima uang dari orang lain dengan alasan serupa. Dengan demikian, uang memudahkan pertukaran antara orang-orang yang bahkan tidak saling mengenal. Uang bekerja sebagai alat tukar, satuan untuk menyatakan harga, dan penyimpan nilai—meskipun fungsi terakhir tidak pernah sempurna karena daya beli dapat berubah.

Kepercayaan ini bukan semata perasaan pribadi. Keaslian uang, aturan pembayaran, sistem perbankan, kegiatan ekonomi, dan kebijakan publik membuat kepercayaan itu lebih mungkin bertahan.

2. Mengapa uang tidak harus dijamin emas?

Dalam sejarah, sebagian surat uang berkembang dari tanda terima atau janji penukaran logam berharga. Namun, uang modern umumnya tidak lagi memberikan hak untuk menukarkan setiap lembar uang dengan emas pada rasio tetap. Sistem ini disebut uang fiat.

Pada uang fiat, nilai bahan fisik tidak menentukan nilai nominal. Yang penting adalah penerimaan luas terhadap uang tersebut, dukungan hukum dan kelembagaan, serta keyakinan bahwa uang masih dapat digunakan untuk memperoleh barang dan jasa di kemudian hari. Artinya, ungkapan “uang hanya kertas” benar secara fisik tetapi keliru jika dipakai untuk mengabaikan institusi dan hubungan sosial yang membuatnya berfungsi.

3. Negara menetapkan, masyarakat menggunakan

Di Indonesia, Rupiah memiliki kedudukan hukum sebagai mata uang dan Bank Indonesia mengelola pengeluaran serta peredarannya. Bank Indonesia juga menjalankan mandat menjaga kestabilan nilai Rupiah. Pengamanan terhadap pemalsuan membantu memastikan bahwa lembar yang diterima benar-benar uang yang sah.

Tetapi status sah bukan jaminan bahwa harga barang akan selalu tetap. Kepercayaan terhadap uang harus terus ditopang oleh kebijakan yang kredibel, sistem pembayaran yang berfungsi, dan kemampuan ekonomi menghasilkan barang serta jasa.

4. Nilai nominal tidak sama dengan daya beli

Misalkan hari ini Rp100.000 dapat membeli lima jenis kebutuhan pokok. Beberapa waktu kemudian, dengan uang yang sama kita hanya mampu membeli empat. Angka pada lembar uang tidak berubah, tetapi daya belinya menurun.

Perubahan tingkat harga secara umum disebut inflasi. Penyebabnya beragam: perubahan permintaan, gangguan pasokan, biaya produksi, ekspektasi, dan kondisi moneter dapat berinteraksi. Karena itu, kestabilan harga penting bukan sekadar untuk statistik ekonomi, melainkan agar keluarga dan usaha dapat merencanakan pengeluaran, tabungan, serta investasi dengan lebih masuk akal.

5. Uang juga hidup di rekening

Ketika kita membayar melalui transfer, tidak ada lembar uang yang harus berpindah dari tangan ke tangan. Saldo simpanan bank juga berfungsi sebagai uang dalam perekonomian. Bank of England menjelaskan bahwa pemberian kredit oleh bank komersial dapat menciptakan simpanan baru. Namun, bank tidak bebas menciptakan uang tanpa batas: modal, likuiditas, pengawasan, biaya pendanaan, dan risiko kredit membatasi kegiatannya.

Ini menunjukkan perbedaan penting antara uang, media pembayaran, dan kekayaan. Menciptakan saldo baru tidak otomatis menciptakan barang, keterampilan, atau produktivitas baru. Kemakmuran tetap bergantung pada kapasitas ekonomi nyata.

6. Dua cara uang kehilangan kepercayaan

Pertama, jika lembar uang palsu sulit dibedakan dari uang asli, orang menjadi ragu menerima pembayaran. Kedua, sekalipun uangnya asli, inflasi yang sangat tinggi dapat membuat orang ragu menyimpannya karena daya belinya cepat menyusut. Masalah pertama menyangkut keaslian; masalah kedua menyangkut kestabilan nilai. Keduanya menggerus fungsi uang dengan cara berbeda.

Pelajarannya sederhana tetapi mendasar: uang bukan benda ajaib yang bernilai karena dicetak. Ia adalah infrastruktur sosial dan ekonomi yang memungkinkan kita bekerja sama dalam skala besar. Kepercayaan membuatnya diterima; tata kelola dan kegiatan ekonomi membantu menjaga kegunaannya.

Pertanyaan penutupnya bukan hanya “berapa uang yang kita miliki?”, melainkan juga “apa yang masih bisa kita lakukan dengan uang itu?”

REFERENSI
1. Bank of England — Why does money depend on trust? https://www.bankofengland.co.uk/explainers/why-does-money-depend-on-trust
2. Bank of England — What is money? (pembaruan 27 Februari 2025). https://www.bankofengland.co.uk/explainers/what-is-money.
3. Bank of England — How is money created? (pembaruan 1 Oktober 2019). https://www.bankofengland.co.uk/explainers/how-is-money-created
4. Bank Indonesia — Pengelolaan Uang Rupiah. https://www.bi.go.id/id/fungsi-utama/sistem-pembayaran/pengelolaan-rupiah/default.aspx
5. Bank Indonesia — Fungsi Utama. https://www.bi.go.id/id/fungsi-utama/default.aspx

Pertanyaan Inti

Bagaimana selembar uang kertas yang biaya pembuatannya jauh lebih rendah daripada angka yang tercetak dapat diterima untuk membeli barang dan jasa?

Konteks

Kenapa ini penting?

Kita menggunakan uang setiap hari, tetapi sering mencampuradukkan nilai nominal dengan daya beli. Memahami asal nilai uang membantu kita membaca inflasi, membedakan uang asli dari uang yang benar-benar menjaga daya beli, serta memahami pentingnya kepercayaan terhadap lembaga dan kestabilan ekonomi.

Bagikan

Bagikan Lite ini

Jika bermanfaat, teruskan pengetahuan ini tanpa mengganggu pengalaman membaca.

Lanjut memahami

Jelajahi pengetahuan berikutnya.

Temukan Lite lain dan lanjutkan rasa ingin tahu tanpa kehilangan konteks.

Buka Pustaka →