Lite

Apa yang Hilang Ketika Sebuah Bahasa Punah?

apa-yang-hilang-ketika-sebuah-bahasa-punah
Audio Pustaka

Dengarkan artikel

Versi audio artikel penuh

Bahasa tidak selalu lenyap mendadak ketika penutur terakhir meninggal. Sering kali prosesnya dimulai saat satu generasi masih fasih, generasi berikutnya hanya memahami, dan anak-anak tidak lagi menggunakannya. UNESCO menempatkan pewarisan antargenerasi sebagai salah satu ukuran utama vitalitas bahasa, bersama faktor lain seperti ruang penggunaan dan dukungan pendidikan.

Menurut perkiraan yang digunakan PBB dan UNESCO dalam Dekade Internasional Bahasa-Bahasa Adat 2022–2032, sekitar 40% dari 6.700 bahasa dunia berada dalam bahaya menghilang. Indonesia sendiri mencatat 718 bahasa daerah; hingga 2025 program revitalisasi telah menjangkau 120 bahasa di 38 provinsi, menurut Badan Bahasa (Februari 2026).

Ketika bahasa menyusut, yang terancam meliputi tradisi lisan, ungkapan khas, hubungan antargenerasi, dan sebagian pengetahuan lokal. Kamus serta arsip digital membantu, tetapi tidak dapat menggantikan percakapan hidup. Upaya pelestarian yang kuat memberi ruang bagi keluarga, sekolah, dan komunitas untuk terus menggunakan bahasa itu—tanpa menganggap kemampuan berbahasa Indonesia atau bahasa lain sebagai musuh.

Pertanyaan Inti

Apa yang sebenarnya hilang ketika sebuah bahasa berhenti diwariskan, dan mengapa jumlah penutur saja tidak cukup untuk menjamin kelangsungannya?

Konteks

Kenapa ini penting?

Indonesia memiliki ratusan bahasa daerah. Ketika generasi muda berhenti memakainya, yang terancam bukan hanya kosakata, melainkan juga cerita, identitas, dan akses terhadap pengetahuan lintas generasi. Memahami proses ini membantu keluarga, sekolah, dan komunitas menjaga bahasa sebagai praktik hidup—bukan sekadar arsip.

Bagikan

Bagikan Lite ini

Jika bermanfaat, teruskan pengetahuan ini tanpa mengganggu pengalaman membaca.

Lanjut memahami

Jelajahi pengetahuan berikutnya.

Temukan Lite lain dan lanjutkan rasa ingin tahu tanpa kehilangan konteks.

Buka Pustaka →