Bayangkan kebutuhan belanja yang tahun lalu berharga Rp100.000. Jika keranjang yang sama kini berharga Rp105.000, harganya naik 5 persen. Lembar uang Rp100.000 tidak berubah, tetapi kemampuan belinya terhadap keranjang itu berkurang. Inilah gambaran sederhana tentang inflasi.
Inflasi bukan kenaikan harga satu barang saja. Badan Pusat Statistik (BPS) mengukurnya melalui Indeks Harga Konsumen (IHK), yang mengikuti perubahan harga sekumpulan barang dan jasa yang mewakili konsumsi rumah tangga. Harga beberapa barang bisa turun, sementara harga yang lain naik. Karena pola belanja setiap keluarga berbeda, inflasi yang mereka rasakan juga bisa berbeda dari angka nasional.
Penyebab inflasi pun tidak tunggal. Permintaan yang meningkat, biaya produksi dan distribusi yang naik, gangguan panen, perubahan nilai tukar, serta ekspektasi harga dapat saling memengaruhi. Di Indonesia, Bank Indonesia membedakan inflasi inti, komponen harga pangan bergejolak, dan harga yang diatur pemerintah untuk memahami sumber tekanannya.
Ada satu salah paham yang penting dihindari: jika inflasi turun dari 6 persen menjadi 3 persen, harga rata-rata masih naik, hanya lajunya lebih lambat. Kondisi ini disebut disinflasi, bukan penurunan harga. Harga rata-rata yang benar-benar turun disebut deflasi.
Daya beli juga dipengaruhi pendapatan. Jika penghasilan naik lebih cepat daripada harga kebutuhan, kemampuan membeli dapat membaik meskipun masih terjadi inflasi. Karena itu, pertanyaan yang paling berguna bukan sekadar “berapa persen inflasi?”, tetapi “bagaimana harga kebutuhan berubah dibandingkan pendapatan kita?”.

