Kita sering menganggap hujan sebagai tanda bahwa persediaan air kembali aman. Padahal, air yang jatuh dari langit belum tentu sampai ke tempat cadangan air tanah tersimpan.
Air tanah terutama berada di ruang-ruang kecil antara butiran tanah, pasir, dan retakan batuan yang jenuh air. Lapisan yang dapat menyimpan sekaligus mengalirkan air dalam jumlah berarti disebut akuifer. Akuifer terisi kembali melalui proses recharge, ketika sebagian air dari hujan, sungai, atau sumber lain meresap ke bawah.
Proses ini tidak selalu cepat. Sebagian air hujan kembali ke atmosfer melalui penguapan dan tumbuhan; sebagian mengalir menuju saluran dan sungai. Aspal, beton, serta perubahan tata guna lahan dapat mengurangi peresapan pada lokasi tertentu. Air yang berhasil masuk pun mungkin membutuhkan waktu lama untuk mencapai akuifer yang lebih dalam.
Di sisi lain, pemompaan terus berlangsung. Ketika pengambilan air tanah secara berkepanjangan melebihi pengisian kembali, simpanannya berkurang dan muka air tanah turun. Sumur dapat menjadi kurang produktif atau kering. Di beberapa wilayah, pemompaan berlebihan juga dapat berkontribusi terhadap amblesan tanah dan intrusi air asin. Besar dampaknya bergantung pada kondisi geologi setempat.
Contoh penting ada di Jakarta: kajian ilmiah mencatat penurunan muka tanah di sejumlah kawasan, tetapi penyebabnya tidak boleh disederhanakan menjadi satu faktor saja; pengambilan air tanah, pemadatan sedimen, dan beban pembangunan dapat sama-sama berperan.
Karena itu, menjaga air tanah membutuhkan dua pekerjaan sekaligus: melindungi kawasan resapan dan mengelola jumlah air yang diambil. Hujan membantu, tetapi hujan bukan jaminan bahwa neraca air tanah sudah seimbang.

