Kita menulis tanggal seolah-olah waktu terbagi rapi menjadi hari, bulan, dan tahun. Padahal, gerak Bumi tidak mengikuti pembagian angka yang kita buat. Satu hari berkaitan dengan rotasi Bumi, sedangkan satu tahun musim—yang disebut *tahun tropis*—berlangsung sekitar 365,2422 hari. Angka itu tidak dapat dimasukkan begitu saja ke dalam kalender yang harus memakai jumlah hari utuh.
Jika semua tahun selalu 365 hari, kalender akan tertinggal sekitar 0,2422 hari terhadap siklus musim setiap tahun. Dalam seratus tahun, pergeserannya mendekati 24 hari. Menambah satu hari setiap empat tahun membantu, tetapi menghasilkan rata-rata 365,25 hari—sedikit terlalu panjang.
Kalender Gregorian menyempurnakan pendekatan itu. Tahun yang habis dibagi empat biasanya kabisat; tahun yang habis dibagi seratus dikecualikan, kecuali juga habis dibagi empat ratus. Karena itu, 2000 adalah tahun kabisat, sedangkan 2100 bukan. Dalam setiap 400 tahun terdapat 97 tahun kabisat, sehingga panjang rata-rata satu tahun kalender menjadi 365,2425 hari, sangat dekat dengan tahun tropis.
Sistem ini tidak berarti manusia telah “memperbaiki” gerak Bumi. Yang diperbaiki adalah cara kita menghitungnya. Kalender lain dapat memilih dasar berbeda, seperti fase Bulan atau gabungan siklus Matahari dan Bulan, karena kebutuhan budaya dan tujuan penanggalannya berbeda.
Pelajarannya melampaui tanggal 29 Februari: alat untuk membaca dunia selalu menyederhanakan kenyataan. Kalender berguna justru karena aturan yang disepakati cukup akurat, dapat diprediksi, dan dipahami bersama.

