Hari pertama pindah ke kos, hal pertama yang dicari biasanya bukan kasur. Yang dicari adalah depot air isi ulang terdekat. Galon diantar, dipasang di dispenser, selesai. Air minum aman, setidaknya begitu yang kita kira.
Tidak banyak yang pernah bertanya air itu berasal dari mana, diolah bagaimana, atau kapan terakhir kali diuji. Kita membayar, airnya jernih, dan itu sudah terasa cukup.
Pertanyaan-pertanyaan kecil itu ternyata terhubung dengan salah satu krisis terbesar zaman ini. Bukan krisis yang akan datang. Krisis yang, menurut PBB, sudah terjadi.
1. Ketika PBB memakai kata "bangkrut"
Pada 20 Januari 2026, United Nations University melalui lembaganya UNU-INWEH merilis laporan yang menyatakan dunia telah memasuki era kebangkrutan air global (global water bankruptcy).
Istilah "bangkrut" dipilih dengan sengaja. Bayangkan air seperti keuangan. Hujan dan sungai adalah pemasukan rutin. Air tanah, gletser, dan lahan basah adalah tabungan yang terkumpul selama ribuan tahun. Selama puluhan tahun, dunia memakai air lebih cepat daripada pemasukannya, lalu menutup kekurangannya dengan menguras tabungan. Ketika tabungan itu rusak dan tidak bisa dipulihkan dengan biaya yang masuk akal, itulah kebangkrutan.
Angka-angka dalam laporan itu menunjukkan seberapa jauh kondisinya:
— 75 persen umat manusia tinggal di negara yang tergolong rawan air atau sangat rawan air.
— 4 miliar orang mengalami kelangkaan air parah setidaknya satu bulan setiap tahun.
— 70 persen akuifer utama dunia (cadangan air tanah) menunjukkan penurunan jangka panjang.
— 410 juta hektare lahan basah alami hilang dalam lima dekade terakhir, hampir seluas Uni Eropa.
— 2 miliar orang tinggal di atas tanah yang terus ambles, sebagian besar akibat pengambilan air tanah berlebihan.
2. Satu dari empat orang di dunia
Laporan bersama WHO dan UNICEF yang dirilis Agustus 2025 menunjukkan, sampai 2024, 2,1 miliar orang, atau satu dari empat penduduk dunia, belum memiliki akses air minum yang dikelola secara aman. Dari jumlah itu, 106 juta orang masih minum langsung dari sumber permukaan yang tidak diolah, seperti sungai, danau, dan kolam.
"Dikelola secara aman" punya definisi yang ketat. Airnya harus tersedia di rumah, ada saat dibutuhkan, dan bebas dari kontaminasi. Air yang terlihat jernih belum tentu memenuhi tiga syarat itu.
3. Indonesia: airnya ada, amannya belum tentu
Indonesia bukan negara kering. Curah hujannya tinggi dan sungainya banyak. Masalahnya ada pada kualitas dan pengelolaan.
Studi Kualitas Air Minum Rumah Tangga (SKAMRT) 2020 dari Kementerian Kesehatan menilai lebih dari 20.000 rumah tangga di 34 provinsi. Hasilnya, 7 dari 10 rumah tangga mengonsumsi air minum yang terkontaminasi bakteri E. coli, dan akses air minum yang benar-benar aman hanya 11,9 persen. Studi yang sama mencatat 31 persen rumah tangga Indonesia mengonsumsi air isi ulang.
Pada Desember 2024, Kemenkes merilis hasil surveilans tahun 2023 yang menunjukkan peningkatan signifikan pada kualitas air minum, meski rilis resminya tidak mencantumkan angka persentase. Dalam rilis yang sama, Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono menyebut bahwa masalah yang tersisa "disuplai oleh penggunaan air isi ulang yang ternyata tercemar bakteri E. coli."
Artinya, galon di sudut kamar kos itu bisa jadi bagian dari masalah, bukan solusinya.
Di Jakarta, krisis air juga terlihat dari tanahnya sendiri. Menurut kajian BRIN yang dikutip The Jakarta Post pada Januari 2026, Jakarta ambles rata-rata 3,5 sentimeter per tahun. Jakarta Utara sudah turun hingga 4 meter dalam empat dekade, dan sekitar 40 persen wilayahnya kini berada di bawah permukaan laut. Penyebab utamanya adalah pengambilan air tanah berlebihan, karena layanan air perpipaan PAM Jaya belum menjangkau seluruh kota.
4. Desember 2026: dunia berkumpul di Abu Dhabi
Pada 8–10 Desember 2026, PBB menggelar Konferensi Air PBB 2026 di Abu Dhabi, dengan Uni Emirat Arab dan Senegal sebagai tuan rumah bersama. Fokusnya adalah mempercepat pencapaian SDG 6, tujuan pembangunan berkelanjutan tentang air bersih dan sanitasi.
Waktunya krusial. Konferensi ini berlangsung ketika tersisa lima tahun menuju tenggat Agenda 2030, sementara laporan-laporan terbaru menunjukkan dunia masih jauh dari target. Yang dipertaruhkan bukan lagi janji baru, melainkan apakah komitmen yang sudah ada bisa berubah menjadi investasi dan infrastruktur nyata.
5. Jawabannya ada di infrastruktur, bukan cuma kebiasaan
Krisis air sering dibingkai sebagai soal hemat air: matikan keran saat menggosok gigi, mandi lebih singkat. Kebiasaan itu baik, tapi tidak menyentuh inti masalah yang dijelaskan laporan-laporan tadi. Masalah intinya adalah jutaan orang tidak punya akses ke air yang aman, sehingga mereka harus menyedot air tanah atau membeli air yang kualitasnya tidak terjamin.
Di sinilah inisiatif seperti Aquity Clear menjadi relevan. Aquity Clear adalah inisiatif Aryadhara Foundation bersama KMP Aryadhana untuk membangun infrastruktur air minum aman dengan pendekatan regeneratif, sejalan dengan SDG 6 (air bersih dan sanitasi) dan SDG 13 (aksi iklim).
Yang membuatnya berbeda adalah modelnya. Aquity Clear dirancang sebagai model partisipasi: publik bisa ikut terlibat dalam pembangunan infrastruktur air aman, bukan hanya menunggu proyek pemerintah atau donor besar. Ini menjawab langsung persoalan yang diangkat UNU dan WHO. Kalau tabungan air dunia terus terkuras, yang dibutuhkan adalah sistem air aman di tingkat lokal yang dibangun dan dijaga bersama.
Bagi Gen Z, ini membuka peran yang lebih besar dari sekadar konsumen yang berhati-hati. Generasi ini bisa ikut menjadi bagian dari pembangunan infrastrukturnya.
Informasi lebih lanjut tentang Aquity Clear dan program Aryadhara Foundation: aryadhara.org
6. Yang bisa dilakukan mulai sekarang
— Kenali sumber air minummu. Kalau memakai galon isi ulang, tanyakan ke depot kapan terakhir kali airnya diuji. Depot yang serius biasanya bisa menunjukkan hasil ujinya.
— Masak air dari sumber yang tidak jelas. Air sumur, air tanah, atau air yang ragu kualitasnya sebaiknya dimasak sampai mendidih sebelum diminum.
— Pahami bahwa air tanah itu tabungan, bukan pemasukan. Di kota seperti Jakarta, setiap pompa air tanah ikut menurunkan permukaan tanah. Dukung perluasan air perpipaan di kotamu.
— Ikuti Konferensi Air PBB, 8–10 Desember 2026. Perhatikan apa yang dijanjikan pemerintah Indonesia di sana, lalu tagih realisasinya.
— Dukung dan sebarkan inisiatif air aman. Inisiatif seperti Aquity Clear membutuhkan partisipasi publik. Satu unggahan, satu percakapan, atau satu keputusan untuk ikut terlibat bisa memperluas jangkauannya.
Dunia mungkin sudah bangkrut air dalam arti yang dijelaskan PBB: tabungannya terkuras dan sebagian tidak akan kembali. Tapi kebangkrutan dalam keuangan tidak selalu berarti akhir. Kebangkrutan memaksa kita berhenti berpura-pura, menghitung ulang, dan membangun sistem baru yang lebih jujur.
Generasi yang sekarang mengangkat galon ke lantai tiga kos-kosan adalah generasi yang akan hidup paling lama dengan hasil keputusan itu. Mereka juga generasi yang paling berhak ikut menentukannya.

