Oleh: R. Widyanto

Bayangkan Anda bangun besok pagi, seperti biasa mengambil smartphone untuk mengecek notifikasi WhatsApp atau scrolling Instagram. Tapi, layar hanya menunjukkan pesan: “Tidak ada koneksi internet.” Anda mencoba lagi—restart data seluler, hubungkan ke WiFi—tetapi tetap tidak ada sinyal. Bukan hanya Anda, semua orang di sekitar Anda mengalami hal yang sama. Internet, tulang punggung kehidupan modern, tiba-tiba mati total. Apa yang akan terjadi?

Pada 5 Juni 2025, dunia sangat bergantung pada internet. Lebih dari 5,5 miliar orang di seluruh dunia terhubung, dan di Indonesia, penetrasi internet mencapai 78%, menurut laporan Asosiasi Penyedia Jasa Internet Indonesia (APJII). Internet bukan lagi sekadar alat komunikasi; ia adalah fondasi ekonomi, pendidikan, hiburan, bahkan hubungan sosial. Tapi, ketergantungan ini juga membuat kita sangat rentan. Mari kita bayangkan skenario jika internet benar-benar mati besok.

1. Chaos Awal: Kepanikan dan Ketidakpastian

Beberapa jam pertama setelah internet mati, kepanikan akan melanda. Bayangkan:

  • Komunikasi Terputus: Anda tidak bisa mengirim pesan WhatsApp ke keluarga atau rekan kerja. Panggilan darurat mungkin masih berfungsi melalui jaringan seluler tradisional, tetapi tanpa internet, aplikasi seperti Gojek atau Grab tidak bisa diakses.
  • Transaksi Digital Lumpuh: Dompet digital seperti OVO atau GoPay tidak dapat digunakan. Toko-toko yang bergantung pada pembayaran QRIS akan menghadapi masalah besar. Bahkan petani di desa, yang kini menjual hasil panen melalui WhatsApp, kehilangan akses ke pasar mereka.
  • Informasi Hilang: Tidak ada Google untuk mencari informasi, tidak ada berita online untuk mengetahui apa yang terjadi. Rumor akan menyebar lebih cepat, memperburuk kepanikan.

Di Jakarta, misalnya, seorang pekerja kantoran mungkin tidak bisa masuk kerja karena sistem absensi online tidak berfungsi. Di desa-desa, seorang petani di Jawa Tengah tidak bisa menghubungi pembeli berasnya di kota, terpaksa menjual dengan harga murah di pasar lokal atau menyimpan hasil panen yang mungkin membusuk.

2. Ekonomi Global dan Lokal Terguncang

Internet adalah tulang punggung ekonomi digital. Jika mati, dampaknya akan langsung terasa:

  • E-commerce Berhenti: Platform seperti Tokopedia atau Shopee tidak dapat diakses, menghentikan transaksi jutaan UMKM di Indonesia yang bergantung pada penjualan online.
  • Rantai Pasok Terganggu: Sistem logistik modern bergantung pada internet untuk pelacakan dan koordinasi. Barang mungkin terhenti di pelabuhan atau gudang, menyebabkan kelangkaan bahan pokok.
  • Pasar Finansial Kolaps: Bursa saham global akan lumpuh tanpa internet untuk perdagangan real-time. Bank yang bergantung pada sistem online akan kesulitan memproses transaksi.

Di Indonesia, UMKM yang menyumbang 60% PDB akan terpukul keras. Seorang pengusaha kecil di Bandung yang menjual kerajinan tangan di Shopee mungkin kehilangan pendapatan bulanan, terpaksa mencari cara lain untuk bertahan hidup.

3. Isolasi Sosial dan Psikologis

Internet telah mengubah cara kita berhubungan. Tanpa internet:

  • Media Sosial Hilang: Tidak ada Instagram, TikTok, atau X untuk berbagi keseharian atau mencari hiburan. Anak muda, yang menghabiskan rata-rata 7-9 jam sehari di depan layar (data 2025), mungkin merasa kosong dan cemas.
  • Hubungan Jarak Jauh Terputus: Keluarga yang terpisah jarak tidak bisa video call atau mengirim pesan. Seorang pekerja migran di Arab Saudi tidak bisa menghubungi anaknya di Indonesia, meningkatkan rasa kesepian.
  • Hiburan Digital Lenyap: Tidak ada Netflix, YouTube, atau Spotify. Orang-orang harus mencari hiburan alternatif, seperti membaca buku atau bermain permainan tradisional.

Namun, ada sisi positif: tanpa media sosial, orang mungkin mulai berinteraksi tatap muka lagi. Di sebuah kampung di Yogyakarta, misalnya, warga berkumpul di balai desa untuk berbagi cerita, sesuatu yang jarang dilakukan sejak semua orang sibuk dengan gadget mereka.

4. Dampak pada Lingkungan: Sisi Positif yang Tidak Terduga

Digitalisasi memiliki jejak karbon yang besar. Pada 2025, infrastruktur digital menyumbang 3,7% emisi karbon global, setara dengan industri penerbangan. Jika internet mati:

  • Data Center Berhenti: Server cloud yang boros energi tidak lagi beroperasi, mengurangi emisi karbon secara signifikan.
  • Pengurangan Limbah Elektronik: Tanpa internet, permintaan akan gadget baru mungkin menurun, mengurangi produksi limbah elektronik.
  • Kembali ke Alam: Orang-orang mungkin lebih sering keluar rumah, berkebun, atau hiking, memperkuat hubungan mereka dengan alam.

Bayangkan sebuah desa di Sumba: tanpa internet, anak-anak tidak lagi bermain game online, tetapi membantu orang tua di ladang atau bermain layang-layang di sawah, menciptakan kehidupan yang lebih seimbang dan berkelanjutan.

5. Transisi Menuju Kehidupan Pasca-Digital

Setelah chaos awal, manusia akan beradaptasi. Beberapa perubahan yang mungkin terjadi:

  • Komunikasi Alternatif: Radio komunitas, papan pengumuman fisik, atau kurir manusia akan menggantikan internet. Di masa lalu, masyarakat Indonesia menggunakan utusan untuk menyampaikan pesan antar kampung—cara ini bisa dihidupkan kembali.
  • Ekonomi Lokal Bangkit: Pasar desa dan sistem barter akan menjadi norma. Seorang petani di Jawa Tengah mungkin menukar beras dengan ikan dari nelayan lokal, tanpa perlu platform digital.
  • Hiburan Tradisional Kembali: Storytelling, musik tradisional, dan permainan seperti congklak akan menggantikan hiburan digital, memperkuat budaya lokal.

Komunitas adat Baduy di Banten adalah contoh nyata. Mereka hidup tanpa digitalisasi, menggunakan musyawarah untuk berkomunikasi dan barter untuk ekonomi. Hidup mereka sederhana, tetapi penuh makna dan harmoni dengan alam.

6. Apa yang Bisa Kita Lakukan Sekarang?

Internet mungkin tidak mati besok, tetapi skenario ini mengingatkan kita akan kerentanan ketergantungan digital. Beberapa langkah yang bisa kita mulai hari ini:

  • Kurangi Waktu Layar: Batasi penggunaan gadget menjadi 1-2 jam sehari. Gunakan waktu luang untuk berinteraksi dengan keluarga atau teman secara langsung.
  • Bangun Sistem Komunikasi Alternatif: Mulai radio komunitas di desa Anda, atau gunakan papan pengumuman untuk berbagi informasi.
  • Perkuat Ekonomi Lokal: Belanja di pasar tradisional alih-alih e-commerce, dan dukung UMKM di sekitar Anda.
  • Kembangkan Keterampilan Non-Digital: Belajar bertani, memasak, atau membuat kerajinan tangan—keterampilan yang akan berguna jika digitalisasi mati.

Penutup: Dunia Pasca-Digital Bukan Akhir, Tapi Awal Baru

Internet mati mungkin terdengar menakutkan, tetapi ini juga bisa menjadi kesempatan untuk kembali ke kehidupan yang lebih manusiawi. Bayangkan dunia di mana kita tidak lagi terpaku pada layar, tetapi berkumpul di bawah pohon untuk berbagi cerita. Dunia di mana ekonomi lokal berkembang, dan alam kembali menjadi sahabat kita.

Skenario ini bukan untuk menakut-nakuti, tetapi untuk menginspirasi. Mari kita mulai mempersiapkan diri untuk dunia pasca-digital—bukan dengan rasa takut, tetapi dengan harapan. Artikel ini adalah bagian pertama dari rangkaian yang akan mengeksplorasi kehidupan tanpa digitalisasi. Ikuti perjalanan ini dalam artikel berikutnya, atau nantikan buku saya yang akan datang: The End of Digitalization: Mempersiapkan Kehidupan Tanpa Ketergantungan Digital.

Apa pendapat Anda? Apa yang akan Anda lakukan jika internet mati besok? Bagikan di kolom komentar!

**) Cetak NFTs artikel ini, dimana akan memberikan pemiliknya akses atau manfaat tertentu pada ekosistem LEAINOVA Institute di kemudian hari, dan atau juga kripto point reward. Cetak NFTs nya sekarang dengan Klik Ikon LITE dibawah.