Bayangin deh: Jakarta udah tenggelam, paus terakhir di dunia nyanyi lagu pamitnya, dan kenangan seseorang disimpen di server yang butuh bayar mahal cuma buat jaga karbon tetap seimbang. Kedengeran kayak film sci-fi yang bikin merinding? Ya, bener banget. Tapi ini bukan cuma hiburan semata. Ini semacam kaca pembesar buat kita ngaca, buat melihat masa depan yang mungkin banget terjadi kalau kita cuma diam aja soal Planet Panas dan Teknologi Ngebut yang makin tak terkendali.

Extrapolations — serial dari Apple TV+ yang tayang perdana 17 Maret 2023 — ngehadirin 8 episode yang masing-masing ngintip masa depan dari tahun 2037 sampai 2070. Pemerannya juga bukan kaleng-kaleng: ada Meryl Streep, Kit Harington, sampai Sienna Miller. Tapi yang bikin serial ini nampol bukan cuma cast-nya, tapi karena dia ngasih kita pertanyaan gede: sampai mana batas kewarasan kita bisa bertahan di tengah perubahan yang ekstrem ini?


🌍 2037: Dunia Sudah Nggak Kuat Lagi Bernapas

Episode pertama, A Raven Story, langsung membenturkan kita dengan realita pahit: kondisi bumi yang udah naik 1,55°C. Di Tel Aviv, KTT iklim ke-42 digelar, tapi kok rasanya lebih banyak drama politik daripada aksi nyata? Di balik layar, Marshall Zucker (Tahar Rahim) adu taktik sama Nicholas Bilton (Kit Harington), bos perusahaan teknologi air yang punya agenda tersembunyi. Visual kebakaran hutan, udara berasap, dan pengungsi iklim berjuta-juta orang bikin kita merenung: ini bukan fiksi, ini proyeksi 2030 yang udah di depan mata, mengingatkan betapa rapuhnya batas kewarasan manusia saat berhadapan dengan bencana skala global.


🐋 2046–2047: Saat Paus Pamit dan Kota Hanyut dalam Kenangan

Dua episode selanjutnya, Whale Fall dan The Fifth Question, makin dalam menyentuh hati dan menguji empati kita. Rebecca (Sienna Miller) berusaha komunikasi sama paus terakhir di Bumi lewat teknologi canggih. Sedih? Banget. Tapi yang lebih nusuk adalah ketika Miami udah jadi Atlantis dan Rabbi Josh (Daveed Diggs) harus hadapi kenyataan baru di kota yang kini hanyut. Episode ini bener-bener ngebahas soal intergenerational justice, alias keadilan buat generasi yang belum lahir. Dan itu bikin mikir, kita ini lagi warisin apa sih? Apakah kewarasan kita masih utuh saat harus menerima kenyataan pahit ini?


💨 2059: Ketika Teknologi Jadi Dewa, Atau Justru Neraka Baru?

Di tahun 2059, teknologi makin canggih — dan makin menyeramkan. Di Face of God, kita lihat Jonathan Chopin (Edward Norton) mainin geoengineering: nyemprotin aerosol ke langit buat nurunin suhu bumi. Kedengarannya keren, tapi efek sampingnya? Kekeringan massal. Di Nightbirds, kisah pindah ke Mumbai, di mana Gita berjuang ngelawan perusahaan karbon besar. Di sini, carbon credit bukan solusi, tapi malah jadi alat penindasan. Selamat datang di masa depan di mana Teknologi Ngebut tanpa etika bisa membuat kita kehilangan arah dan kewarasan.


💾 2066–2068: Memori Jadi Barang Mewah, Identitas Terjual Mahal

Di Lola, Ezra (masih Tahar Rahim) pakai blockchain buat simpen memori mendiang istrinya. Tapi biayanya? Gila-gilaan. Sistem cloud ini ternyata rawan juga, terutama pas gempa bikin semuanya error. Lalu, di The Going-Away Party, pesta elite di San Francisco jadi ajang pamer kesadaran digital: upload pikiran lo, hidup di cloud, dan bayar pakai karbon. Kedengeran edgy banget, tapi sebenernya ini kritik keras soal jurang sosial yang makin lebar dan bagaimana teknologi bisa merenggut identitas serta kewarasan kita demi keuntungan.


⚖️ 2070: Titik Akhir atau Kesempatan Terakhir?

Episode terakhir, Ecocide, jadi puncaknya. Bumi udah panas banget: 3,3°C. Pengungsi iklim tembus 93 juta orang. Dan akhirnya, si Nicholas Bilton diadili karena bisnisnya yang rusak lingkungan. Ada secercah harapan lewat energi fusi dan kolonisasi luar angkasa, tapi juga pengakuan bahwa kita udah telat. Serial ini tutup dengan pertanyaan besar: gimana caranya kita bikin dunia ini nggak jadi museum digital, di mana manusia cuma tinggal kenangan dan kewarasan jadi barang langka?


💡 Apa yang Bisa Kita Ambil dari Ujian Kewarasan Ini?

Extrapolations bukan cuma tontonan gelap, tapi juga semacam wake-up call yang menusuk:

  • Krisis iklim itu nyata dan dampaknya bisa mengancam pondasi hidup serta kewarasan kita. Ini bukan cuma soal es di kutub doang, tapi soal rumah, makanan, dan masa depan itu sendiri.
  • Teknologi harus diawasi ketat. Blockchain, cloud, geoengineering — semua bisa bantu, tapi juga bisa jadi bumerang jika tanpa kendali etika dan regulasi yang jelas.
  • Keadilan sosial itu fundamental. Jangan sampai Planet Panas dan Teknologi Ngebut justru membuat yang kaya makin nyaman dan yang miskin makin tersingkir, menghancurkan kebersamaan dan kewarasan kolektif.
  • Kita masih punya waktu, tapi nggak banyak. Jadi, mau nunggu dunia kebakar dan kehilangan kewarasan, atau mulai gerak sekarang?

Walaupun dapet skor Rotten Tomatoes cuma 43% (katanya terlalu moralistik), beberapa episode kayak The Fifth Question dan Nightbirds layak banget buat ditonton dan direnungi. Serial ini ngajak kita mikir ulang: masa depan tuh bukan takdir yang pasif, tapi hasil keputusan hari ini yang akan sangat menentukan apakah kita bisa tetap waras atau justru kehilangan segalanya.

Karena pada akhirnya, pertanyaannya bukan “apa yang akan terjadi?” tapi “apa yang mau kita lakuin untuk menjaga kewarasan kita dan dunia ini?” Kalau lo masih nonton Extrapolations dan mikir, “ih serem banget,” itu tandanya serial ini berhasil. Tapi kalau lo cuma mikir gitu terus tanpa ngapa-ngapapain, ya bisa jadi nanti Jakarta beneran tinggal nama di cloud, dan kita semua kehilangan kewarasan kita.